Resiko Reksadana

TutorBisnis.com – Sebelum memulai investasi Reksadana disarankan untuk memahami resikonya. Selain itu juga perlu untuk tahu kelemahannya dan cara mengelola resiko tersebut. Namun yang pasti Reksadana merupakan suatu cara investasi terbaik dan termudah.

Resiko merupakan hal yang lekat dalam investasi. Mustahil ada investasi tanpa resiko. Dari mengetahui resiko tersebut hendaknya jangan malah khawatir tetapi justru dikelola supaya hasil investasi optimal. Selain itu juga bisa membandingkan dengan kelebihan dan kekurangan emas atau instrumen investasi lainnya.

Resiko Investasi Reksadana

Resiko Investasi Reksadana

Tugas seorang investor yaitu memahami apa saja resiko dari investasi Reksadana dan cara mengelolanya agar dapat meminimalisir dampak  negatifnya.

1. Return Reksadana Tidak Pasti

Banyak orang menganggap jika Reksadana sama seperti tabungan atau deposito. Padahal kedua instrumen investasi tersebut sangat berbeda. Resiko Reksadana lebih tinggi dan keuntungannya tidak pasti, bisa untung atau rugi. Untuk menghadapi ketidakpastian tersebut, investor yang ingin membeli Reksadana hendaknya melakukan hal berikut:

  • Pilih Reksadana yang tepat sebab ada beberapa jenis Reksadana dengan tingkat resiko yang berbeda. Pemilihan yang tepat adalah yang sesuai dengan tujuan keuangan sehingga menjadi kunci keberhasilan rencana investasi.
  • Lakukan diversifikasi, artinya tidak menaruh seluruh uang pada satu tempat, namun menyebarkannya ke banyak instrumen. Sehingga apabila yang satu merugi masih ada yang lainnya.

2. Tidak Ada Jaminan dari Pemerintah

Jika Reksadana merugi maka kerugian tersebut adalah tanggungan investor sebab tidak ada perlindungan dari pemerintah. Berbeda dari tabungan dan deposito yang dijamin oleh pemerintah. Sehingga uang yang ditabung tidak mungkin berkurang nilainya. Karena itu investor perlu memilih jenis Reksadana dengan tepat dan juga melakukan diversifikasi investasi.

3. Tidak Ada Proteksi Jiwa

Apabila yang menjadi sumber dana investor terkena musibah dan tidak dapat melanjutkan investasi di Reksadana maka investasi berhenti. Tidak ada pihak lain yang menggantikan atau melanjutkan investasi tersebut. Reksadana tidak memiliki proteksi asuransi dikarenakan murni investasi. Itulah resikonya.

Tetapi hal tersebut dapat dikelola dengan membeli asuransi jiwa untuk proteksi. Apabila investor mengalami musibah, asuransi menyediakan uang untuk melanjutkan investasi. Perlu meneliti dengan cermat asuransi yang akan digabung dengan investasi, yang dikenal dengan asuransi unit link.

BACA JUGA: Pengertian Reksadana Syariah

4. Memiliki Inisiatif

Berinvestasi Reksadana perlu kedisiplinan untuk menabung sebab tidak ada pihak yang akan mengingatkan investor. Investor akan kehilangan momentum jika terlupa karena dalam Reksadana tidak ada kewajiban untuk membayar secara rutin.

Namun hal itu dapat diatasi dengan bantuan program Auto-invest, yang merupakan program investasi Reksadana. Auto-invest disetting secara otomatis setiap bulan sehingga uang di tabungan secara otomatis setiap bulannya akan dipotong untuk diinvestasikan ke Reksadana yang telah dipilih.

Maka investor tidak usah khawatir jika lupa berinvestasi sebab sistem secara otomatis memotong rekening investor sejumlah yang telah ditentukan untuk ditempatkan pada Reksadana.

5. Reksadana Dapat Dibubarkan

Ada kondisi di mana Reksadana dibubarkan, antara lain:

  • Diperintahkan oleh Otoritas Jasa Keuangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  • Nilai Aktiva Bersih Reksadana yang dihasilkan kurang dari Rp. 25.000.000.000 (dua puluh lima miliar Rupiah) selama 90 hari Bursa berturut-turut. Selanjutnya Manajer Investasi akan melakukan pembubaran dan likuidasi.

Kinerja yang buruk akan mengakibatkan pembubaran Reksadana. Untuk menghadapi resiko tersebut investor perlu memilih Reksadana dengan kinerja yang baik. Lihat daftar list Reksadana dengan menganalisa data nilai aktiva bersih.

Perhitungan nilai aktiva bersih Reksadana memperlihatkan seberapa besar jumlah uang dalam Reksadana yang dikelola oleh Manajer Investasi. Semakin besar nilainya maka artinya semakin kuat Reksadana tersebut. Kesimpulannya, bila kinerjanya bagus maka Reksadana tidak mungkin akan dibubarkan.

6. Pencairan Bisa Tidak Dilakukan

Normalnya, pencairan Reksadana dilakukan dalam 3 hari. Apabila investor mencairkan hari ini maka T+3 uang tersebut masuk ke rekening investor. Mungkinkah jika bisa tidak masuk dalam 3 hari? Bisa, resiko tersebut bisa saja ada pada likuiditas.

Penjualan Kembali atau pelunasan tergantung pada likuiditas dari portofolio atau kemampuan Manajer Investasi untuk melunasi dengan menyediakan uang tunai. Resiko ini bisa muncul jika pada saat yang sama semua investor melakukan penjualan Reksadana dan Manajer Investasi gagal menyediakan dana.

Untuk mengatasinya investor perlu melihat kekuatan dari Manajer Investasi, berapa besar dana kelolaan atau AUM Manajer Investasi. AUM merupakan aset bersih yang dikelola oleh Manajer Investasi.

Nilai AUM dapat dilihat, salah satunya di Bareksa data Reksadana. Dana kelola tersebut mencerminkan kepercayaan investor pada Manajer Investasi. Semakin besar maka berarti semakin baik.

Reksadana memang memberikan return yang lebih tinggi daripada tabungan dan deposito. Tetapi terdapat sejumlah resiko dalam investasi Reksadana. Investor wajib memahami resiko tersebut dan mengelolanya, bukan justru khawatir setelah tahu dengan resikonya.

BACA JUGA: Jenis Investasi Reksadana

Kunjungi TutorBisnis.com jika kamu membutuhkan informasi seputar keuangan, bisnis, dan investasi. Semoga informasi pada artikel ini semakin membuka wawasan para peminat investasi Reksadana khususnya para pemula.

Artikel Terkait

close
Shopee Promo